Minggu, 31 Mei 2015

Kebudayaan & Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Indonesia

Kebudayaan & Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Indonesia



PENDAHULUAN

Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya yang ada ini terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.



PEMBAHASAN

1. Definisi Budaya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.


2. Klasifikasi Budaya

Klasifikasi suatu budaya adalah sebagai unsur dari kebudayaan, dan unsur-unsur tersebut yaitu:

1.      Sistem  Religi  (sistem  kepercayaan).

Merupakan produk manusia sebagai homo religious. Manusia yang memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur, tanggap bahwa diatas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang maha besar. Karena itu manusia takut, sehingga menyembahnya dan lahirlah kepercayaan yang sekarang menjadi agama.

2.      Sistem  organisasi  kemasyarakatan.

Merupakan produk dari manusia sebagai homo socius. Manusia sadar bahwa tubuhnya lemah, namun memiliki akal, maka disusunlah oganisasi kemasyarakatan dimana manusia bekerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

3.      Sistem  pengetahuan.

Merupakan dari produk manusia sebagai homo sapiens. Pengetahuan dapat diperoleh dari pemikiran sendiri disamping itu didapat juga dari orang lain. Kemampuan manusia mengingat-ingat apa yang telah diketahui kemudian menyampaikannya kepada orang lain melalui bahasa.

4.      Sistem  mata  pencaharian  hidup  dan  sistem-sistem  ekonomi

Merupakan produk manusia sebagai homo economicus menjadikan tingat kehidupan manusia secara umum terus meningkat.

5.      Sistem  Teknologi  dan  Peralatan.

Merupakan produk dari manusia sebagai homo faber. Bersumber dari pemikirannya yang cerdas dan dibantu dengan tangannya yang dapat memegang sesuatu dengan erat.

6.      Bahasa.

Merupakan produk dari manusia sebagai homo longuens. Bahasa manusia pada mulanya diwujudkan dalam bentuk tanda (code) yang kemudian disempurnakan dalam bentuk bahasa lain, dan akhirnya menjadi bentuk bahasa tulisan.

7.      Kesenian.

Merupakan hasil dari manusia sebagai homo aestetieus. Setelah manusia dapat mencukupi kebutuhan fisiknya.


3. Karakteristik Budaya

a. Komunikasi dan Bahasa

Sistem komunikasi, verbal dan nonverbal, membedakan suatu kelompok dari kelompok lainnya. Meskipun bahasa tubuh mungkin universal, perwujudannya berbeda secara lokal.

b. Pakaian dan Penampilan

Pakaian, dandanan (aksesoris/perhiasan), penampilan luar, cenderung berbeda secara kultural. Misalnya kebaya dan batik Jawa(Indonesia), kimono Jepang, payung Inggris, sarung Polynesia.

c. Makanan dan Kebiasaan Makan

Cara memilih, menyiapkan, menyaikan, dan memakan makanan sering berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.

d. Waktu dan Kesadaran akan Waktu

Kesadaran akan waktu berbeda antara budaya yang satu dengan budaya lainnya. Sebagian orang tepat waktu dan sebagian orang lainnya merelatifkan waktu.

e. Penghargaan dan Pengakuan

Suatu area tertentu mempunyai cara tersendiri dalam memberi penghargaan dan pengakuan.

f. Hubungan

Budaya juga mengatur hubungan manusia dan hubungan-hubungan organisasi berdasarkan usia, jenis kelamin, status, kekeluargaan, kekayaan, kekuasaan, dan kebijaksanaan.

g. Nilai dan Norma

Nilai dan Norma manusia juga dipengaruhi oleh kebutuhan hidup masing-masing. Seseorang yang menginginkan kelangsungan hidup, menghargai usaha-usaha pengumpulan makanan, penyediaan pakaian dan rumah yang memadai. Sedangkan mereka yang mempunyai kebutuhan lebih tinggi menghargai materi, uang, gelar-gelar pekerjaan, hukum, dan keteraturan.

h. Rasa Diri dan Ruang

Kenyamanan seseorang dengan dirinya dapat terlihat secara berbeda oleh budaya.

i. Proses Mental dan Belajar

Setiap budaya mempunyai suatu proses berpikir, namun setiap budaya mewujudkan proses tersebut dengan cara yang berbeda. Kehidupan dalam suatu tempat tertentu menetapkan hukum-hukum untuk mempelajari atau tidak informasi tertentu, dan ini ditegaskan dan diperkuat oleh budaya di sana.

j. Kepercayaan dan Sikap

Dalam semua budaya tampaknya orang-orang mempunyai perhatian terhadap hal-hal supernatural yang jelas dalam agama-agama dan praktik-praktik agama mereka. Agama dipengaruhi oleh budaya dan budaya pun dipengaruhi oleh agama. Sistem kepercayaan agama sekelompok orang agak bergantung pada tingkat perkembangan kemanusiaan mereka.


4. Pengaruh Budaya Asing Terhadap Kepribadian Bangsa Timur

Ø  Dampak Positif

a) Perubahan Tata Nilai dan Sikap

Adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semula irasional menjadi rasional.

b) Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.

c) Tingkat Kehidupan yang lebih Baik

Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.


Ø  Dampak negatif

a) Pola Hidup Konsumtif

Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.

b) Sikap Individualistik

Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.

c) Gaya Hidup Kebarat-baratan

Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, remaja lebih menyukai dance dan lagu barat dibandingkan tarian dari Indonesia dan lagu-lagu Indonesia, dan lainnya. Hal ini terjadi karena kita sebagai penerus bangsa tidak bangga terhadap sesutu milik bangsa.

d) Kesenjangan Sosial

Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial. Kesenjangan social menyebabkan adanya jarak antara si kaya dan si miskin sehingga sangat mungkin bias merusak kebhinekaan dan ketunggalikaan Bangsa Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA





Mitos

Mitos



PENDAHULUAN

Mitos adalah satu cerita, pendapat atau anggapan dalam sebuah kebudayaan yang dianggap mempunyai kebenaran mengenai suatu perkara yang pernah berlaku pada suatu masa dahulu, yang kebenarannya belum tentu benar adanya (Harry Lubis, 2009). Mitos, mungkin sama tuanya dengan bahasa itu sendiri. Beberapa mitos dapat bertahan karena memberikan nasehat yang sesuai dengan pengalaman sehari-hari.


PEMBAHASAN

1. Definisi Mitos

          Mitos adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional. Pada umumnya mitos menceritakan terjadinya alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi, kisah para makhluk supranatural, dan sebagainya. Mitos dapat timbul sebagai catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan, sebagai alegori atau personifikasi bagi fenomena alam, atau sebagai suatu penjelasan tentang ritual. Mereka disebarkan untuk menyampaikan pengalaman religius atau ideal, untuk membentuk model sifat-sifat tertentu, dan sebagai bahan ajaran dalam suatu komunitas.

            Klasifikasi mitos Yunani terawal oleh Euhemerus, Plato (Phaedrus), dan Sallustius dikembangkan oleh para neoplatonis dan dikaji kembali oleh para mitografer zaman Renaisans seperti dalam Theologia mythologica (1532). Mitologi perbandingan abad ke-19 menafsirkan kembali mitos sebagai evolusi menuju ilmu (E. B. Tylor), "penyakit bahasa" (Max Müller), atau penafsiran ritual magis yang keliru (James Frazer). Penafsiran selanjutnya menolak pertentangan antara mitos dan sains. Lebih lanjut lagi, mitopeia seperti novel fantasi, manga, dan legenda urban, dengan berbagai mitos buatan yang dikenal sebagai fiksi, mendukung gagasan mitos sebagai praktik sosial yang terus terjadi.


B. Contoh Mitos yang Terjadi di Indonesia

Contoh mitos yang di bahas kali ini adalah tentang misteri permainan Masangin di pohon beringin kembar yang berlokasi di Alun-alun Keraton Yogyakarta.

Biasanya orang yang datang ke Alun-alun ini melakukan sebuah permainan yang bernama ‘masangin.’ Permainan ini dilakukan dengan cara berjalan melintasi pohon beringin kembar… ini dilakukan dengan mata tertutup menggunakan kain. Mitos masyarakat Yogyakarta tentang permainan ini adalah siapa pun yang berhasil melintasi pohon ini secara lurus berarti hati kita bersih. Masangin (dua beringin) awalnya berasal dari tradisi topo bisu yakni ritual yang dilakukan dengan berkeliling benteng pada malam 1 Suro atau hari jadi berdrinya Keraton Yogyakarta.

Mengenai asal mula pohon beringin kembar tersebut, terdapat berbagai versi sejarah yang terdapat didalamnya.


Versi I

Ada yang mengatakan Sultan Hamengkubuwono I mempunyai putri yang cantik jelita yang membuat banyak lelaki terpikat akan kecantikannya serta ingin melamarnya.
Untuk itu, Sultan pun memberi.tantangan bagi siapa saja yang ingin melamar putrinya, yaitu harus melewati pohon beringin kembar dengan mata tertutup. Menurut Sultan, hanya orang yang memiliki hati baik dan tulus yang dapat melewati beringin kembar dengan mata tertutup. Konon, yang berhasil melewatinya dan menjadi menantu Sultan hanyalah Prabu Siliwangi.


Versi II

Versi lain dari pohon beringin ini mengatakan beringin kembar digunakan sebagai pertahanan gaib untuk mengecoh pasukan Belanda yang ingin menyerang keraton agar mereka kehilangan arah.


Versi III

Mitos lain yang berkembang seputar beringin kembar di Alun-alun Kidul adalah hubungan dengan laut selatan atau segoro kidul. Ada yang menyebut jika beringin kembar di Alun-alun Kidul merupakan pintu gerbang ke laut selatan. Kepercayaan seputar mitos ini berkembang ketika di zaman HB VI. Dalam kepercayaan warga lokal, Keraton Yogya memang memiliki 'hubungan' spesial dengan Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan. Makanya banyak yang meyakini bahwa dahulu orang-orang yang hendak berbuat jahat ke Keraton Yogyakarta akan kehilangan kesaktiannya setelah melewati kedua beringin kembar tersebut.


Tata cara permainan Masangin :

1.      Permainan Masangin dilakukan dengan cara posisi berdiri tegak lurus, sekitar 25 meter dari pohon beringin kembar dekat Gedung Sasana Hinggil.

2.      Dalam keadaan mata tertutup kain hitam, badan pemain diputar lebih dahulu 360 derajat berkali-kali…

3.      Setelah dirasa cukup, tubuh pemain diarahkan pada posisi
lurus ke depan.

4.      Setelah ketiga proses tersebut dijalankan barulah pemain mulai berjalan lurus menuju arah tengah pohon beringin kembar tanpa bantuan orang lain.


Mitos dalam permainan Masangin :

Jika peserta dalam permainan Masangin dapat berjalan tepat di tengah-tengah pohon beringin kembar dan mampu melewati dengan posisi lurus tanpa menabrak atau berbalik arah , maka dia akan mendapatkan keberkahan dalam hidup.

Namun, jangan sekali-kali kita mencoba mengikuti permainan ini dengan curang, yaitu dengan mengintip. Konon jika hal ini dilakukan maka diri kita akan memasuki dunia lain, yaitu dengan mendapati diri kita di alun-alun dalam keadaan sepi sendirian, dan sulit untuk kembali ke alam nyata lagi.


Nilai-nilai Kemanusiaan yang Terkandung dalam Mitos


1. Nilai Positif

Ø  Dalam hal mitos tersebut, kita diajarkan bahwa jika ingin menginginkan sesuatu maka kita harus percaya diri dan fokus.

Ø  Jika mengalami kegagalan, maka itu menjadi sebuah pembelajaran, untuk itu kita tidak boleh putus asa dan terus mencoba hingga berhasil.


2. Nilai Negatif

§  Karena masyarakat Indonesia masih banyak yang mempercayai hal-hal yang mengandung ghaib, maka cara ini bisa terjadi kemusyrikan karena percaya keajaiban saat berhasil melewati dua pohon tersebut ketimbang percaya kepada Tuhan, sehingga ketika mereka gagal melewati dua pohon terebut maka mereka akan mencobanya kembali.


DAFTAR PUSTAKA




http://www.merdeka.com/peristiwa/4-mitos-melegenda-beringin-kembar-di-alun-alun-kidul-yogyakarta/beringin-kembar-pintu-gerbang-laut-selatan.html

Klasifikasi Ilmu Pengetahuan

Klasifikasi Ilmu Pengetahuan



PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.


PEMBAHASAN

1. Sejarah Ilmu

A. Zaman Purba (15 SM – 7 SIV)

Pada dasarnya manusia di zaman purba hanyalah menerima semua peristiwa sebagai fakta. Sekalipun dilaksanakan pengamatan, pengumpulan data dan sebagainya, namun mereka sekadar menerima pengumpulan saja. Fakta-fakta hanya diolah sekadarnya, hanya untuk menemukan soal yang sama, yaitu common denominator, itu pun barangkali tanpa sengaja, tanpa tujuan. Kalaupun ada penegasan atau keterangan, maka keterangan itu senantiasa dihubungkan dengan dewa-dewa dan mistik. Oleh karena itulah pengamatan perbintangan menjelma menjadi astrologi. pengamatan yang dilakukan oleh manusia pada zaman purba, yang menerima fakta sebagai brute factr atau on the face value, menunjukkan bahwa manusia di zaman purba masih berada pada tingkatan sekedar menerima, baik dalam sikap maupun dalam pemikiran (receptive attitude dan receptive mind) (Santoso,1977: 27).

Perkembangan pengetahuan dan kebudayaan manusia pada zaman purba dapat diruntut jauh ke belakang, bahkan sebelum abad 15 SM, terutama pada zaman batu. Pengetahuan pada masa itu diarahkan pada pengetahuan yang bersifat praktis, yaitu pengetahuan yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Kapan dimulainya zaman batu tidak dapat ditentukan dengan pasti, namun para ahli berpendapat bahwa zaman batu berlangsung selama jutaan tahun.

Sesuai dengan namanya, zaman batu, pada masa itu manusia  menggunakan batu sebagai peralatan. Hal ini tampak dari temuan- temuan seperti kapak yang digunakan untuk memotong membelah. Selain menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu manusia pada zaman itu juga menggunakan tulang binatang. Alat yang terbuat dari tulang binatang antara lain digunakan  menyerupai fungsi jarum untuk menjahit. Ditemukannya benda- benda hasil peninggalan pada zaman batu merupakan suatu bukti bahwa manusia sebagai makhluk berbudaya mampu berkreasi untuk mengatasi tantangan alam sekitarnya.

Seiring dengan perkembangan waktu, benda-benda yang  dipergunakan pun mengalami kemajuan dan perbaikan. Penemuan dilakukan berdasarkan pengamatan, dan mungkin dilanjutkan dengan percobaan-percobaan tanpa dasar, menuruti proses and error. Akhirnya, dari proses trial and error, yang memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun inilah terjadi perkembangan penyempurnaan pembuatan alat-alat yang digunakan, sehingga manusia menemukan bahan dasar pembuatan alat yang baik, kuat serta hasilnya pun menjadi lebih baik. Dengan demikian tersusunlah pengetahuan know how. Dalam bentuk know how itulah  penemuan-penemuan tersebut diwariskan pada generasi-generasi selanjutnya.

Perkembangan kebudayaan terjadi lebih cepat setelah manusia menemukan dan menggunakan api dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memanfaatkan api untuk menghangatkan tubuh, ketergantungan manusia akan iklim menjadi berkurang Api kemudian juga digunakan untuk memasak dan perlengkapan dalam berburu. Di zaman yang lebih maju nantinya, arti api menjadi lebih penting. Pengetahuan tentang proses pemanasan dan peleburan merintis jalan pada pembuatan alat dari tembaga, perunggu dan besi. Dalam catatan sejarah misalnya, peralatan besi digunakan pertama kali di Irak abad ke-15 SM (Brouwer,1982:6).

Perkembangan pengetahuan secara lebih cepat terjadi beberapa ribu tahun sebelum Masehi. peristiwa ini terjadi ketika manusia berada pada zaman batu muda. pada masa ini mulailah revolusi besar dalam cara hidup manusia. Manusia mulai mengenal pertanian, mengenal kehidupan bermukim (menetap), membangun rumah, mengawetkan makanan, memulai irigasi, dan mulai beternak hewan. Pada masa itu juga telah muncul kemampuan menulis, membaca dan berhitung. Dengan adanya kemampuan menulis, beberapa peristiwa penting dapat dicatat dan kemudian dapat dibaca oleh orang lain sehingga akan lebih cepat disebarkan. Kemampuan berhitung juga sangat menunjang perkembangan pengetahuan karena catatan tentang suatu peristiwa menjadi lebih lengkap dengan data yang relatif lebih teliti dan lebih jelas.

Menurut Anna Poedjiadi (1987:28-32) pada zaman purba perkembangan pengetahuan telah tampak pada beberapa bangsa, seperti Mesir, Babylonia, Cina dan India. Ada keterkaitan saling pengaruh antara perkembangan pemikiran di satu wilayah dengan wilayah lainnya. Pembuatan alat-alat perunggu di Mesir abad ke-17 SM memberi pengaruh terhadap perkembangan yang diterapkan di Eropa. Bangsa Cina abad ke-15 SM juga telah mengembangkan teknik peralatan perunggu di zaman Dinastii Shang, sedangkan peralatan besi sebagai perangkat perang sudah dikenal pada abad ke-5 SM pada zaman Dinasti Chin. India memberikan surnbangsih yang besar dalam perkembangan matematik dengan penemuan sistem bilangan desimal. Budhisme yang diadopsi oleh raja Asoka, kaisar ketiga Di Mautya, telah menyumbangkan sistem bilangan yang menjadi titik tolak perkembangan sistem bilangan pada zaman modern: India bahkan sudah menemukan roda pemutar untuk pembuat tembikar pada abad ke-30 SM. Sayangnya peradaban yang sudah maju itu mengalami kepunahan pada abad ke-20 SM, baik yang disebabkan oleh bencana alam maupun oleh peperangan.

Secara umum dapat dinyatakan bahwa pengetahuan pada zaman purba ditandai dengan adanya lima kemampuan, yaitu (1) pengetahuan didasarkan pada pengalaman (empirical knowledge (2) pengetahuan berdasarkan pengalaman itu diterima sebagai fakta dengan sikap receptive mind, dan kalaupun ada keterangan tentang fakta tersebut, maka keterangan itu bersifat mistis,magis dan religius; (3) kemampuan menemukan abjad dan sistem bilangan alam sudah menampakkan perkembangan pemikiran manusia ke tingkat abstraksi; (4) kemampuan menulis, berhitung, menyusun kalender yang didasarkan atas sintesis terhadap abstraksi yang dilakukan; dan (5) kemampuan meramal peristiwa-peristiwa fisis atas dasar peristiwa-peristiwa sebelumnya yang pernah terjadi, misalnya gerhana bulan dan matahari (Santoso,1977: 27-28)

B. Zaman Yunani (7 SM – 6 M)

Zaman Yunani Kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat, karena Bangsa Yunani pada masa itu tidak lagii mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (suatu sikap menerima begitu saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa. Beberapa filsuf pada masa itu antara lain Thales, Phytagoras, Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Zaman Kuno meliputi zaman filsafat pra-Socrates di Yunani. Tokoh-tokohnya dikenal dengan nama filsuf pertama atau filsuf alam. Mereka mencari unsur induk (arche) yang dianggap asal dari segala sesuatu. Menurut Thales arche itu air, Anaximandros berpendapat arche itu `yang tidak terbatas' (to apeiron). Anaximenes arche itu udara, Pythagoras arche itu bilangan, dan Heraklitos arche itu api, ia juga berpendapat bahwa segala sesuatu itu terus mengalir (panta rhei). Parmenedes mengatakan bahwa segala sesuatu itu tetap tidak bergerak. (Lasiyo dan Yuwono,1985: 52)

1. Zaman keemasan filsafat Yunani

Pada waktu Athena dipimpin oleh Perikles kegiatan politik filsafat dapat berkembang dengan baik. Ada segolongan kaum yang pandai berpidato (rethorika) dinamakan kaum sofis. Mereka mengajarkan pengetahuan pada kaum muda. menjadi objek penyelidikannya bukan lagi alam tetapi manusia, sebagaimana yang dikatakan oleh Pythagoras, manusia adalah  ukuran untuk segala-galanya. Hal ini ditentang oleh Socrates dengan mengatakan bahwa yang- benar dan yang baik dipandang sebagai nilai-nilai objektif yang dijunjung tinggi oleh semua orang. Akibat ucapannya tersebut Socrates dihukum mati.

Hasil pemikiran Socrates dapat ditemukan pada muridnya Plato. Dalam filsafatnya Plato mengatakan: realitas seluruhnya terbagi  atas dua dunia yang hanya terbuka bagi panca indra dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dunia yang pertama adalah dunia jasmani dan yang kedua dunia ide.

Pendapat tersebut dikritik  oleh Aristoteles dengan mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang konkret “ide manusia' tidak terdapat dalam kenyataan”. Aristoteles adalah filosof realis, dan sumbangannya pada perkembangan ilmu pengetahuan besar sekali. Sumbangan yang sampai sekarang masih digunakan dalam ilmu pengetahuan adalah mengenai abstraksi, yakni aktivitas rasional di mana seseorang memperoleh pengetahuan. Menurut Aristoteles ada tiga macam abstraksi, yakni abstraksi fisis, abstraksi matematis, dan metafisis.

Abstraksi yang ingin menangkap pengertian dengan membuang unsur-unsur individual untuk mencapai kualitas adalah abstraksi fisis. Sedangkan abstraksi di mana subjek menangkap unsur  kuantitatif dengan menyingkirkan unsur kualitatif disebut abstraksi matematis. Abstraksi di mana seseorang menangkap unsur-unsur yang hakiki dengan mengesampingkan unsur-unsur lain disebut abstraksi metafisis. (Harry Hamersma,1983)

Teori Aristoteles yang cukup terkenal adalah tentang materi dan bentuk. Keduanya merupakan prinsip-prinsip metafisis, materi adalah prinsip yang tidak ditentukan, sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini terkenal dengan sebutan Hylemorfisme. (K. Bertens,1988:11-16)

2. Masa Helinistis dan Romawi

Pada zaman Alexander Agung telah berkembang sebuah kebudayaan trans nasional yang disebut kebudayaan Helinistis, karena kebudayaan Yunani tidak terbatas lagi pada kota-kota Yunani saja, tetapi mencakup juga seluruh wilayah yang ditaklukkan Alexander Agung. Dalam bidang filsafat, Athena tetap merupakan suatu pusat yang penting, tetapi berkembang pula pusat-pusat intelektual lain, terutama kota Alexandria. Akhirnya ekspansi Romawi meluas sampai ke wilayah Yunani, itu tidak berarti kesudahan kebudayaan dan filsafat Yunani, karena kekaisaran Romawi pun pintu dibuka lebar untuk menerima warisan kultural Yunani.

Dalam bidang filsafat tetap berkembang, namun pada saat itu tidak ada filsuf yang sungguh-sungguh besar kecuali Plotinus.

Pada masa ini muncul beberapa aliran berikut.:

a. Stoisisme

Menurut paham ini jagat raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut Logos. Oleh karena itu, segala kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak dapat dihindari.

b. Epikurisme

Segala-galanya terdiri atas atom-atom yang senantisa bergerak. Manusia akan bahagia jika mau mengakui susunan dunia ini dan tidak boleh takut pada dewa-dewa.

c.Skeptisisme

Mereka berpikir bahwa bidang teoretis manusia tidak sanggup mencapai kebenaran. Sikap umum mereka adalah kesangsian

d. Eklitisisme

Suatu kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsur filsafat dari aliran-aliran lain tanpa berhasil mencapai suatu Pemikiran yang sungguh-sungguh.­

e. Neo Platonisme

Paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat Plato. Tokohnya adalah Plotinus. Seluruh filsafatnya berkisar pada Allah sebagai yang satu. Segala sesuatu berasal dari `yang satu` dan ingin kembali kepada-Nya. (K. Bertens,1988:16-18)

B. Pembagian Ilmu

Ilmu pengetahuan adalah semua usaha untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.

Pembagian Ilmu Pengetahuan :

– Ilmu Alamiah,

– Ilmu Sosial,

– Ilmu Budaya.

Pengertian.

§  Ilmu Alamiah adalah ilmu yang mempelajari alam dan manusia serta seluruh isi nya dan merupakan pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam alam semesta. Bisa juga siebut IPA (ilmu pengetahuan alam). Contohnya seperti peristiwa bencana alam, yaitu banjir, gempa bumi, tsunami.

§  Ilmu Sosial adalah ilmu yang mempelajari semua aspek kemanusiaan atau metode ilmiah untuk mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Bisa juga disebut IPS (ilmu pengetahuan sosial).
contohnya seperti kegiatan-kegiatan sosial dan komunikasi antar sesama anggota atau kelompok.

§  Ilmu Budaya adalah suatu ilmu yang mempelajari dasar-dasar atau pengetahuan yang dapat memberikan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Contoh seperti budaya betawi saat melamar yang dipersiapkan:

1. Sirih lamaran

2. Pisang raja

3. Roti tawar

4. Hadiah Pelengkap

5. Para utusan yang tediri atas: Mak Comblang, Dua pasang wakil orang tua dari calon tuan mantu terdiri dari sepasang wakil keluarga ibu dan bapak.

Perbedaan Ilmu Alamiah, Sosial dan Budaya.

– ilmu alamiah lebih ditekan kan dengan gejala-gejala kehidupan alam semesta,

– ilmu sosial lebih ke soal interaksi antar sesama manusia.

– ilmu budaya lebih menunjukkan konsep-konsep untuk mengkaji masalah-masalah manusia.

3. Karakteristik Ilmu

Ilmu memiliki pula karakteristik atau sifat yang menjadi ciri hakiki ilmu. Randall dan Buchler mengemukakan beberapa ciri umum ilmu, yaitu : (1) hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama, (2) Hasil ilmu kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan, dan (3) obyektif tidak bergantung pada pemahaman secara pribadi. Pendapat senada diajukan oleh Ralph Ross dan Enerst Van den Haag bahwa ilmu memiliki sifat-sifat rasional, empiris, umum, dan akumulatif (Uyoh Sadulloh,1994:44).

Sementara, dari apa yang dikemukakan oleh Lorens Bagus (1996:307-308) tentang pengertian ilmu dapat didentifikasi bahwa salah satu sifat ilmu adalah koheren yakni tidak kontradiksi dengan kenyataan. Sedangkan berkenaan dengan metode pengembangan ilmu, ilmu memiliki ciri-ciri dan sifat-sifat yang reliable, valid, dan akurat. Artinya, usaha untuk memperoleh dan mengembangkan ilmu dilakukan melalui pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang memiliki keterandalan dan keabsahan yang tinggi, serta penarikan kesimpulan yang memiliki akurasi dengan tingkat siginifikansi yang tinggi pula. Bahkan dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal

Sementara itu, Ismaun (2001) mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut : (1) obyektif; ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif, (2) koheren; pernyataan/susunan ilmu tidak kontradiksi dengan kenyataan; (3) reliable; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterandalan (reabilitas) tinggi, (4) valid; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi, baik secara internal maupun eksternal, (5) memiliki generalisasi; suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum, (6) akurat; penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi) yang tinggi, dan (7) dapat melakukan prediksi; ilmu dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.


DAFTAR PUSTAKA




Rabu, 14 Januari 2015

Parfum untuk pria

TIPS

10 Parfum Terbaik Penakluk Wanita

27 November 2012
Pria dan varian aroma parfum: sebuah pencocokan karakter
Karakter pria dapat diperkuat dengan memilih jenis aroma parfum yang tepat untuk dirinya.
Aroma-aroma seperti leather, amber, atau sandalwood adalah beberapa ciri khas parfum pria yang dapat membangkitkan daya feromon pada tubuhnya.
Sejak tahun 1000 SM, bangsa Mesir kuno telah memakai esens dari tumbuhan atau bunga sebagai bahan wewangian yang digunakan baik untuk upacara ritual maupun pengharum tubuh. Parfum sejak lama telah dipercaya sebagai penambah kepercayaan diri seseorang, termasuk untuk urusan menarik lawan jenis. Pada dasarnya, tubuh manusia mengandung feromon yang menghasilkan bau alami setiap orang sehingga seseorang akan memiliki bau sebagai ciri khasnya sendiri. Bau yang dihasilkan oleh feromon ini tidak berbau menyengat seperti bau badan. Feromon yang telah terkontaminasi bakteri itulah yang menyebabkan timbulnya bau badan.
Para ahli kimia dari Universitas Huddinge di Swedia mengklaim bahwa feromon berperan aktif dalam mengimpulsif saraf di otak sehingga timbul ketertarikan pada lawan jenis. Perasaan suka, jatuh cinta, terangsang atau ingin berhubungan seksual timbul akibat pengaruh feromon yang masuk ke dalam indera penciuman. Reaksi kimia ini kemudian digagas oleh para peramu parfum untuk membuat wangi-wangian yang semakin menambah gencar reaksi feromon tersebut.
Seorang pria cenderung memiliki aroma feromon yang lebih tajam dibanding wanita. Tidak heran apabila pria tidak pandai merawat tubuh, ia akan mudah mengalami bau badan. John Touqablanco pembuat parfum dari merek Carthusia menjelaskan kepada seorang pria bahwa feromon akan mudah diaktifkan apabila terpancing dengan parfum yang menempel pada tubuh. Untuk itulah, jenis wewangian yang cocok dipakai para pria umumnya berbau alami, seperti aqua, sandalwood, ataupun amber.
Touqablanco juga mendeskripsikan aroma parfum sebagai ajang seorang pria untuk menaklukan wanita idamannya. Salah memilih parfum bisa jadi fatal, entah membuat pemakainya terkesan menjadi feminin atau wanita menghindar akibat baunya yang terlalu tajam. Karena pada dasarnya, jenis-jenis aroma parfum dapat mewakili karakteristik seseorang.
Berikut ini adalah 10 parfum yang dipercaya mampu menaklukan wanita idaman. Wanginya yang lembut, manly, dan elegan menjadikan penampilan Anda kian berkarakter. Tinggal bagaimana Anda membawanya.

1. Infusion d’homme, Prada

Sumber: linternaute.com
Prada menciptakan Infusion d’homme sebagai pasangan dari Infusion d’iris yang merupakan parfum untuk wanita. Mengandung tunisia neroli, iris pallida, vetiver, cedarwood, incense, dan benzoine membuat Infusion d’homme akan mematenkan sosok elegan pada diri Anda. Kunci parfum ini terletak dalam paduan aroma bunga tunisia neroli dengan cedarwood yang menimbulkan aroma yang long lasting dan menambah daya kerja feromon di tubuh Anda.

2. Terre d’Hermes, Hermes

Sumber: c1.beautybar.com
Dibuat dari ekstrak woody, vegetal, dan mineral, Terre terinspirasi dari metamorfosis seorang pria atas aktualisasi diri yang lebih tinggi. Campuran bebauan woddy dengan vegetal menambah kesan misterius orang yang memakainya. Hermes ingin mempertahankan citra tersebut dengan sedikit aroma citrus untuk mengikat kesan maskulin pada pria.

3. 34 Boulevard Saint Germain, Dyptique

Sumber: s7v1.scene7.com
Parfum ini dibuat untuk memperingati 50 tahun berdirinya label Diptyque. 34 Boulevard Saint Germain diramu dari beberapa aroma sweet berries, ekstrak dedaunan, dan pepper. Kelebihan dari parfum ini terletak pada saat setelah disemprotkan. Proses evaporasi menyebabkan munculnya aroma spicy red rose berpadu dengan bunga iris dan clove. Tidak lupa, Dyptique memberi sentuhan aroma rempah sebagai penguat parfum 34 Boulevard saint Germain. Very classy!

4. Intense Oud & Bergamot, Jo Malone

Sumber: 3.bp.blogspot.com
Christine Nagel sang perfumer membuat Intense Oud & Bergamot dengan inspirasi rempah khas Timur Tengah. Maskulinitas yang luar biasa akan timbul saat parfum ini disemprotkan pada tubuh Anda. Padanan serasi aroma jeruk, bergamot, lemon, cedar, dan oud langsung menyerbak tanpa menyengat indra penciuman. Dipastikan wanita akan begitu bergairah saat Anda mengenakan parfum ini karena takluk dengan aroma manly yang melekat. This kind of perfume is warm and seductive, perfect for when the weather starts to turn!

5. Amazingreen, Comme des Garçons

Sumber: m2.flcdn.de
Terinspirasi dari penjelajahan hutan belantara, Amazingreen diciptakan dengan mengambil unsur-unsur hijau di bumi. Daun palem, green pepper, dew mist, dan ekstrak dedaunan liar disarikan menjadi wewangian yang begitu menantang. Parfum ini cocok digunakan sebagai wewangian harian, terutama bagi Anda yang banyak memiliki aktivitas di luar ruangan. Jika terkena keringat, maka Amazingreen akan memunculkan aroma bunga ivy, rumput corriander, dan sejenis tumbuhan silex. This goes on lovely.

sumber :  http://www.talkmen.com/articles/read/117/10-parfum-terbaik-penakluk-wanita/